Rabu, 30 Desember 2015

Islam - Europe



Islam di Eropa
Jika berbicara mengenai dunia Islam dan internasional , serasa tidak ada habisnya. Munculnya komunitas muslim saat ini telah menjadi isu tersendiri. Terlebih menjadi isu yang sangat serius mengenai Islam di Eropa. Isu yang terjadi dan sering menjadi perbincangan di Eropa sendiri adalah dengan diawali adanya masalah imigran. Banyaknya warga yang berada dari luar Eropa (negara-negara Arab) yang berimigrasi dan menetap di Eropa, hanya untuk memperoleh suaka atau kehidupan yang layak. Karena seperti yang diketahui bahwa terdapat banyak pula negara-negara luar Eropa, khususnya negara-negara Arab seperti di wilayah Timur Tengah yang mengalami konflik yang cukup berkepanjangan.
 Oleh sebab itu, tidak heran jika mereka berbondong-bondong mencari kehidupan yang layak di negara-negara maju seperti Eropa. Dengan semakin perkembang pesatnya  para imigran yang menetap dan pada akhirnya mereka membentuk komunitas sendiri. Terlebih mereka memiliki sistem sendiri, seperti status sosial, ekonomi dan budaya yang lebih condong ke arab. Dikhawatirkan oleh bangsa Eropa jika mereka semakin berkembang, maka tidak akan menutup kemungkinan memunculkan peradaban Islam kembali. Kondisi seperti ini juga yang memunculkan masalah baru bagi bangsa Eropa sendiri, yaitu masalah Islamphobia.
Islmaphobia sendiri merupakan suatu kondisi dimana orang-orang Eropa merasa takut dan terancam dengan adanya komunitas dan peradaban Islam yang semakin berkembang dan lebih maju. Terkait isu konflik yang terjadi di Timur Tengah seperti Syiria, menjadi semakin banyaknya komunitas muslim yang menetap di Eropa. Lantaran banyaknya para refugee/pengungsi yang mengungsi ke Eropa untuk dapat memperoleh kehidupan yang layak dan baik. Namun tidak hanya itu saja, terlebih didukung pula adanya tragedi serangan bom di Paris yang diduga pelakunya dari kalangan Muslim. Hal tersebut jelas akan berdampak pada meningkatnya Islamphobia di Eropa sendiri. Selain itu juga, mereka menganggap dan menilai bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan kekerasan dan tidak saling toleran.
Namun, terdapat pernyataan yang sangat mengejutkan dari seorang Imam besar Katholik Ortodhoks di Rusia, dalam menyampaikan khutbahnya di hadapan ratusan jemaat gereja. Terkait penyataannya yang menilai bahwa masa depan Rusia akan menjadi miliki Islam (seperti yang dilansir dalam www.mediaislamia.com). Dengan demikian, hal ini cukup membuktikan tidak semua masyarakat bangsa Eropa menilai Islam merupakan agama yang harus ditakuti, karena telah mengajarkan kekerasan dan sebagainya. Melainkan dengan khutbah yang disampaikan Imam besar Katholik Ortodhoks tersebut, cukup jelas menunjukkan, Islam merupakan agama yang benar. 



Islam - Amerika



Islam dimata Amerika
Permasalahan yang terjadi  dan dihadapi oleh peradaban Barat terkait pandangan mengenai umat muslim, masih menjadi gejolak dan pertentangan. Terlebih di negara Adidaya seperti Amerika Serikat misalnya, yang mana sebagian orang-orang di sana memiliki kecurigaan yang berlebih terhadap adanya budaya baru yang masuk dalam sistem sosial mereka. Perasaan seperti inilah yang dinamakan dengan Xenophobia. Pada perkembangan kondisi di Amerika Serikat, sejak abad ke 20 telah berkembang pesat kelompok muslim yang tersebar di sana. Dengan pesatnya perkembangan muslim di Amerika, maka mereka akhirnya membentuk komunitas dan sistem sendiri dengan konsep yang islami.
Ada benarnya mengenai kritikan Huntington terhadap Fukuyama dalam bukunya yang berjudul The end of history milik Fukuyama, menggambarkan bahwa saat ini tidak akan ada lagi adanya perang serius dalam hal yang berkaitan dengan ideologi. Karena dengan kemenagan Barat pada Perang Dingin dengan paham liberalnya, sudah memenangkan peperangan melawan komunisme.  Namun, pernyataan tersebut terbantahkan oleh kritikan Huntington. Ia justru menggambarkan bahwa sekarang ini Barat telah memiliki musuh baru yaitu Islam. Hal ini didukung dengan adanya penyebab konflik yang terjadi karena penolakan Islam terhadap globalisasi. Islam menganggap bahwa globalisasi akan menjadi sesuatu yang merugikan. Sedangkan posisi globalisasi sendiri dilahirkan dan didukung oleh Barat.
Munculnya komunitas Islam di Amerika ini, dengan budaya-budaya yang dianggap baru oleh masyarakat di sana, menjadikan kecurigaan terhadap Islam semakin tinggi. Terlebih lagi karena Islam telah berani untuk menyampaikan aspirasi keislamannya. Sehingga hal ini membuat masyarakat Amerika menjadi takut dengan adanya kelompok muslim. Xenophobia Amerika yang terlalu tinggi terhadap keberadaan Islam ini cukup terlihat. Pasca terjadinya serangan bom di Paris, dengan dibuktikannya penyataan oleh seorang calon Presiden Amerika yang melarang umat Muslim masuk ke Amerika Serikat. Padahal secara rasional, patut kah seorang calon Presiden mengeluarkan pernyataan seperti itu, terlebih negara tersebut merupakan negara yang mengusung adanya demokrasi.
Bukankah dengan pernyataan seperti itu, akan membuat anggapan umat Muslim terhadap Barat menjadi buruk. Kemudian menjadikan kondisi terkait isu-isu mengenai agama, tetap akan menjadi permasalahan yang tidak dapat diselesaikan. Melainkan permasalahan tersebut akan semakin menjadi-menjadi. Dengan demikian, setidaknya hal ini merupakan gambaran dari kondisi Islam di Amerika.

Minggu, 22 November 2015

Islam dan Terorisme




Melekatnya Islam dalam Keterkaitan Munculnya Teroris
Dewasa ini, pertanyaan yang sering kali muncul dikepala adalah alasan kenapa Islam sering kali dikaitkan dengan teroris? Teroris bukanlah merupakan isu baru dalam dunia internasional. Pasca terjadinya bom di WTC 11/9/2001, Amerika Serikat. Bahkan akhir-akhir ini telah beredar kembali  isu mengenai teroris setelah kejadian yang menimpa Paris yang belum lama ini. Namun, lagi-lagi permasalahan yang terjadi ini dikait-kaitkan dengan nama Islam. Banyak orang berpikir bahwa apa yang terjadi di Paris terkait bom bunuh diri karena ulah teroris, yang tidak sedikit juga beranggapan bahwa pelaku teroris adalah dari kalangan Islam. Terlebih lagi setelah adanya pengakuan dari kelompok ISIS yang bertanggungjawab terkait serangan yang menewaskan beratus-ratus orang di Paris, pada 13 November 2015 lalu.
 Kondisi seperti ini yang akhirnya akan memunculkan pandangan mengenai Islam merupakan agama yang sangat keras. Terkait hal tersebut sering kali konsep jihad dalam Islam sebagai salah satu alasan untuk melakukan atau memunculkan tindakan teroris. Padahal jika ditelaah kembali mengenai apa konsep dasar jihad itu sendiri, bukanlah sesuatu yang harus menggunakan kekerasan. Bahkan ketika kita mengajak seseorang dalam melakukan kebaikan tanpa harus adanya kekerasan itu pun disebut juga dengan jihad. Oleh sebab itu jika jihad dipahami harus melakukan tindakan kekerasan, sepertinya pemahaman seperti itu sangatlah salah.
Belum lagi, terkait ISIS yang sering kali menyebut dirinya adalah Islamic state (negara Islam), yang segala sesuatu harus berdasarkan Islam. Namun, sepertinya karakter yang dimilikinya sama sekali tidak mencerminkan adanya perilaku atau sikap dari yang disyariatkan Islam itu sendiri. terlebih banyak tindakan yang jauh menyimpang dari ajaran Islam. Salah satunya mengajak seseorang untuk mengikuti agama secara paksa, bahkan harus menggunakan kekerasan atau meneror. Padahal jika dalam agama Islam itu sendiri, tidak  adanya suatu pakasaan terhadap seseorang dalam beragama. Bahkan dilarang untuk memaksa dengan menggunakan kekerasan. Seperti dalam firman Allah SWT:
لآإِكْرَاهَ فِيْ الدِّيْنِ
“ Tidak ada paksaan dalam beragama”
            Hal tersebut cukup jelas menunjukkan bahwa ISIS bukanlah suatu kelompok yang benar-benar menerapkan syariat Islam yang sebenarnya. Karena ajaran Islam yang sesungguhnya merupakan agama yang damai. Terlebih lagi dalam pemberitaan media, seringkali Islam sangat disudutkan, bahkan dipandang buruk. Padahal belum tentu media berita mengetahui secara benar kejadian yang terjadi. Kadang kala dari media satu dengan media lainnya sudut pandang mereka berbeda, meskipun dengan kasus yang sama. Sehingga perlu juga bagi kita sebagai pembaca atau pendengar berita, untuk dapat memilah-milah dan membandingkan berita, yang tidak hanya fokus pada satu media saja. Agar kita dapat berpikir kritis dalam menggapi masalah yang ada.
Oleh sebab itu, melalui pernyataan sebelumnya sepertinya sudah cukup jelas menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Paris terkait bom bunuh diri yang dilakukan kelompok ISIS, bukanlah serta merta harus melibatkan agama Islam secara keseluruhan. Melainkan dengan melihat karakter dari ISIS ini sudah sangat menyimpang dari ajaran Islam. Sehingga boleh jadi kelompok ISIS ini dapat dikatakan sebagai kelompok yang tidak memiliki pedoman dalam beragama. Karena sebenarnya jika mereka memiliki pedoman beragama, maka mereka tidak akan melakukan tindakan kekerasan.

Minggu, 08 November 2015

Islam dan Human Right




Apakah konsep HAM sesuai dengan Islam?
Negara yang demokratis pastinya akan mengenal konsep Human Right. Konsep Human Right itu sendiri merupakan konsep yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kebebasan hak hidup manusia. Pada masa ini issue mengenai human right dapat dikatakan cukup popular dan tidak asing lagi terdengar ditelinga. Namun, jika permasalahan mengenai human right ini dikaitkan dengan Islam mungkin banyak orang memahaminya dengan salah.
Dalam konteks saat ini, banyak anggapan bahwa Islam merupakan agama yang telah mengajarkan kekerasan dengan konsep jihad, yang nantinya juga akan berkaitan dengan terorisme. Kemudian tidak hanya itu saja, melainkan Islam dianggap Negara yang tidak dapat menghargai pluralitas dan menolak adanya demokrasi. Anggapan seperti inilah yang salah dalam prespetif Islam. Karena dalam Islam sendiri juga menerapakan konsep human right, yang mana sangat peduli dengan hak hidup manusia.
Pada dasarnya Islam bukanlah agama yang mengajarkan kekerasan seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang. Melainkan Islam sangat peduli terhadap kehidupan manusia. Jangankan hidup manusia, bahkan kehidupan binatang sekalipun Islam juga sangat memperhatikan. Misalnya saja pada saat berqurban, dalam Islam cara menyebelih binatang saja telah diatur. Hal tersebut sudah cukup menjelaskan bahwa Islam telah menerapkan dan menjunjung tinggi konsep human right jauh sebelum itu.
HAM merupakan hak yang telah Allah berikan kepada manusia sebelum manusia terlahir di bumi. Adapun dalam Islam HAM merupakan sesuatu yang berdasar pada kebebasan, kemanusiaan, kerjasama, keadilan, kehormatan dan sebagainya. Hukum yang diterapkan dalam Islam berdasar pada Al Qur’an dan hadist. Sehingga dalam Islam konsep HAM tersebut telah diatur sedemimkian rupa.
Pada era modern saat ini, alasan kenapa Islam sering kali dikaitkan dengan melakukan pelanggaran HAM dengan alasan jihad, kemudian dengan hukum-hukum yang diterapkan mungkin dikira sangat sadis, seperti adanya qishos, rajam dan sebagainya? Sebenarnya pemahaman seperti itu sangatlah salah. Hal tersebut dikarenaka telah banyak orang-orang muslim yang mungkin masih belum benar-benar paham mengenai Islam itu sendiri. Sehingga dalam memahami arti jihad dan hukum-hukum dalam Islam lebih sering diartikan dalam konotasi yang tidak jarang dalam melakukan tindakan yang negatif.
Padahal jika kita mengkaji benar-benar makna dari jihad yang sebenarnya, bukannya hanya untuk membrantas orang-orang kafir saja, melainkan ketika kita berjuang untuk melakukan tindakan baik, seperti mencari ilmu, mencari nafkah buat keluarga dengan mengharapkan ridho Allah itu juga merupakan bagian dari jihad. Kemudian juga hukum yang ditetapkan dalam Islam, sebenarnya bukan untuk menyalahi atau melanggar HAM, melainkan upaya untuk memberi hukuman bagi orang yang salah dengan memberikan kejerahan agar tidak mengulanginya kembali.
Adapun alasan untuk mendukung bahwasanya HAM itu sesuai dengan Islam , karena pada faktanya Islam bukanlah agama yang tidak menghargai hukum. Bahkan Islam sangatlah mengharagai adanya praktek-praktek yang berkaitan dengan hukum. Terkait dengan masalah HAM, dalam Islam salah satunya telah di jelaskan dalam suatu riwayat hadist Imam Abu Daud “ Dilarang membunuh anak, perempuan / wanita, orang tua dan orang yang sedang sakit.” Hal tersebut diupayakan untuk mendorong agar  tidak membunuh orang lain.  Namun, pada kenyataannya saat ini telah banyak orang atau kelompok yang menyalahi aturan yang telah ditetapkan tersebut.
Dari kondisi tersebut, hanya saja pertanyaan yang sering muncul, kenapa harus Islam yang sering kali dianggap telah banyak melakukan pelanggaran HAM. Padahal jika ditinjau kembali dengan melihat konflik di Palestina, banyak orang Israel (non Muslim) telah melakukan serangan, yang mana dengan melibatkan anak-anak, wanita, orang tua. Bukankah hal tersebut sudah sangat melanggar HAM dan aturan hukum internasional. Namun, kenyataanya kondisi seperti itu sering kali diabaikan oleh dunia internasional.
Dengan demikian, dalam konsep Islam sejak awalnya sudah menerapkan rasa saling menghargai antar sesama, terutama dalam hal menghargai hak hidup seseorang. Dengan dibuktikannya adanya hadist mengenai larangan membunuh anak, wanita, orang tua dan orang yang sedang sakit. Sehingga tidak adanya alasan bahwa Islam bertentangan dengan HAM.

Islam dan Demokrasi



Apakah demokrasi masih relevan dalam pandangan Islam?
Kata ‘Demokrasi’ ini menjadi sangat popular dikancah dunia, pasca Perang Dingin yang merupakan kemenangan bagi AS dengan paham liberal demokratis yang dibawanya. Sejak kemenangan AS ini banyak dari berbagai Negara mengikuti paham atau sistem liberal-demokrasi yang telah diterapkan oleh AS. Meskipun masih terdapat beberapa Negara yang tidak menganut paham atau sistem tersebut secara keseluruhan. Salah satunya seperti China yang masih berpaham komunis tapi dalam bidang perekonomian telah menggunakan sistem liberal. Hal ini jelas menunjukkan betapa besar dampak yang telah diterapkan oleh AS dalam mempengaruhi Negara-negara lain.
Dalam pemaknaannya, demokrasi tidak memiliki makna yang tunggal, melainkan makna dari demokrasi itu sendiri dapat dipahami secara berbeda yang cenderung berdasar pada kesubyektivisan setiap individu. Bagi Timothy menganggapan bahwa dalam demokrasi harus terdapat proses pemilihan yang jujur, adil dan secara periodik, serta semua orang bebas untuk berkompetisi atau memilih. Adapun juga anggapan mengenai pemerintahan yang demokratis harus dibangun diatas pluralism dan kedaulatan rakyat.
Namun jika dikaitkan dengan pandangan Islam, apakah demokrasi masih relevan jika diterapkan di Negara-negara yang mayoritas Islam? Seperti yang diketahui dalam hal perpolitikan jika melihat demokrasi dengan Islam merupakan dua konteks yang berbeda. Adapun beberapa kelompok yang melihat secara berbeda konteks Islam dan demokrasi, yaitu: Pertama, kelompok fundamentalis yang melihat bahwa Islam dan demokrasi bukanlah sesuatu yang berkesesuaian. Bagi sebagian ilmuan Barat menganggap bahwa konsep demokrasi yang ideal adalah tidak sesuai dengan Islam, lantaran Islam merupakan agama yang kaku yang mana Islam dianggap tidak dapat menerima kompetisi, pluralism dan perbedaan. Mereka juga menganggap bahwa Islam tidaklah demokratis, karena mengekang kebebasan sosial, pluralisme budaya dan menghilangkan hak-hak wanita.
 Kedua, kelompok yang melihat bahwa tidak ada masalah antara Islam dan demokrasi karena keduanya memiliki tujuan yang sama. Bagi kelompok ini menganggap bahwa Islam dan demokrasi merupakan suatu yang compatible, lantaran adanya persamaan prinsip yang diusung antar keduanya. Prinsip-prinsip tersebut seperti Bai’ah (oath), Musawwah (equality), Syuro (consultation), Adalah (justice), Maslahah (Common Goals) dan Ishmah (Ijma’). Dari prinsip-prinsip ini memiliki tujuan yang sama yaitu berupaya untuk menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Namun, perlu disadari juga bahwa jauh sebelum munculnya demokrasi, prinsip-prinsip yang diusung tersebut sudah ada sejak masa Rasulullah SWA. Oleh sebabnya hal tersebut dianggap bahwa konsep dari demokrasi yang ada saat ini merupakan konsep yang diadopsi dari ajaran Islam pada masa Rasulullah SWA.
 Ketiga, kelompok Moderat yang mengatakan bahwa Islam dan demokrasi itu sesuai, namun tetap ada perbedaan antara keduanya. Kelompok ini hampir sama dengan kelompok sebelumnya yang menganggap Islam dan demokrasi merupakan sesuatu yang compatible, karena persamaan prinsi-prinsipnya. Namun bagi kelompok moderat ini melihat tetap adanya perbedaan dalam pemahaman prinsip-prinsip tersebut.  Seperti pemahaman keadilan bagi demokrasi saat ini berbeda dengan pemahaman Islam.
Dengan demikian, apakah demokrasi masih relevan dengan Islam adalah tergantung dari prespektif masing-masing dalam memberikan penilaiannya dan memahaminya. Namun, pada dasarnya jika dilihat pemikiran dari tiga kelompok tersebut, menunjukkan bahwa inti dari konsep demokrasi itu sendiri memang sudah ada pada prinsip Islam dan telah diterapkan pada masa Rasulullah SAW.