Minggu, 22 Mei 2016






Konflik Kashmir India-pakistan
 Mella Silviana 

Jika berbicara mengenai konflik, setiap negara atau bahkan setiap individu pastinya tidak akan terlepas dari itu. Seperti dalam masalah konflik kashmir yang terjadi antara India dan Pakistan yang dimulai sejak 1947 ini merupakan masalah yang sangat kompleks dan belum ada cerita akhir di kawasan Asia Selatan, karena permasalah konflik Kashmir ini masih saja belum terselesaikan sampai sekarang ini. Meskipun dalam satu kawasan tersebut telah dibentuk suatu organisasi kerjasama region, seperti SAARC (South Asia Assosiation Regionalism Cooperation). Namun, tetap saja tidak menjadikan India dan Pakistan yang merupakan anggota dari organisasi tersebut terhindar dari permasalahan atau konflik. Kedua negara yang cukup berpengaruh dalam kawasan Asia Selatan ini terlibat konflik yang sangat besar dan masih berkelanjutan sampai saat ini yaitu konflik Kashmir.
Wilayah Kashmir itu sendiri merupakan wilayah yang memiliki kekayaan SDA, yang bahkan jika ada negara yang melihatnya akan tertarik untuk memiliki. Akan tetapi dalam hal ini, jelas akan menimbulkan suatu permasalahan bagi negara satu dengan negara lain. Pada faktanya, hal ini terjadi di kawasan Asia Selatan yang mana antara India dan Pakistan saling ingin berebut atau menjadikan wilayah Kashmir sebagai bagian wilayah antar keduanya. Sedangkan India dan Pakistan dalam hal ini tidak ada yang saling mengalah. Sehingga terjadilah konflik yang berkepanjangan antara India dan Pakistan terkait perebutan wilayah Kashmir tersebut.
Dewasa ini, pada 1947 konflik Kashmir ini berawal dari Inggris yang menjual lembah Kashmir pada Hindu Dogra. Sebagai Maharaja di Jammu dan Kashmir, dia menjadikan Kasmir sebagai berlian diantara wilayah-wilayah lain yang dimilikinya, karena banyaknya kekayaan alam yang ada di dalamnya. Namun, dengan adanya perbedaan agama, bahasa dan budaya yang semuanya berada di bawah penguasa, kemudian juga di Kashmir tersebut didominasi oleh Muslim, sedangkan Hindu dan Sikhs itu minoritas. Maka pada abad yang lalu, cucu besar dari sang Maharaja Gulab Singh yaitu Hari Singh  tidak dapat memutuskan untuk bergabung dengan India atau Pakistan. Akhirnya pada Oktober dia setuju untuk bergabung dengan India, setelah banyaknya anggota suku Pakistan Utara-Barat menyerbu batas negara tersebut. Namun, Negara Pakistan tidak setuju jika Kashmir harus bergabung dengan India, karena di Kashmir populasinya mayoritas Islam. Maka seharusnya Kashmir bergabung dengan Pakistan (yang populasinya juga mayoritas Muslim).[1]
Perang antara India dan Pakistan pun tidak dapat dihindari. Namun, perang antar keduanya telah berhenti pada 1949 dengan genjatan senjata yang diawasi oleh pihak PBB. Sebagai bagian dari genjatan senjata, PBB juga memanggil masyarakat Kashmir berkumpul untuk melakukan pemungutan suara untuk menentukan status suatu wilayah (plebisit). Hanya saja solusi yang diberikan ini belum mampu menyelesaikan konflik yang terjadi antara India-Pakistan tersebut. Pada 1989, perang antara dua negara tersebut dibatasi oleh kekuatan masing-masing. Sejak tahun itu juga terjadinya gerakan separatis yang menyerang pemerintah India dengan dukungan dari masyaraat Pakistan untuk Kashmir.[2] Tujuan gerakan ini sendiri untuk merebut Kashmir dari India dan Pakistan juga mempercayai bahwa klaim India terhadap Kashmir itu tidak adil karena sebenarnya orang-orang Muslim Kashmir tersebut ingin bergabung dengan Pakistan. Penyebab kompleksitas dari konflik Kashmir ini karena adanya keegoisan antar keduanya, kemudian diantara kedua negara tersebut memiliki pandangan masing-masing untuk mendukung argumennya terhadap permasalah yang terjadi. Sehingga hal ini sangat sulit untuk diselesaikan, meskipun organisasi internasional dan regional seperti PBB dan SAARC sudah berupaya untuk membantu menyelesaikan masalah, namun tetap saja hal tersebut belum mampu memberikan dampak apa-apa bagi permasalahan yang terjadi. Oleh sebab itu konflik Kashmir ini masih belum terselesaikan sampai saat ini.

Proliferasi Nuklir India-Pakistan
Munculnya permasalahan proliferasi nuklir yang dilakukan oleh India-Pakistan ini jelas berdampak pada perdamaian dan keamanan yang ada di kawasan Asia Selatan. Dewasa ini, kekuatan yang dimiliki oleh nuklir yang mana bentuknya kecil tapi dampak yang diberikan sangatlah besar. Banyak negara yang saat ini sedang memiliki atau mengembangkan nuklir dengan alasan karena kondisi negara yang anarki sehingga negara harus self help. Seperti halnya dengan India-Pakistan yang mana antar keduanya saling melakukan proliferasi nuklir.
Adapun alasan yang menjadikan India-Pakistan masih terus melakukan proliferasi nuklir dikarenakan yang pertama, India melakukan uji coba senjata nuklir dan untuk mendeklarasikan diri sebgai negara yang memiliki kekuatan senjata nuklir karena adanya kondisi buruk yang ada di India sejak akhir 1980. Oleh karena itu secara aktif pemerintah India mencanangkan untuk melakukan uji coba nuklir. Kedua, adanya kesadaran India terkait adanya tahapan ketat dan rezim diskriminasi interasional yang diberlakukan.Ketiga, adanya keinginan India untuk menolak menyesuaikan diri dalam strategi militer dan teknologi baru yang mana terdapat lima negara besar (Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Inggris dan China) yang mendominasi perkembangan nuklir untuk jangka waktu yang panjang. Jadi selama lima negara tersebut  masih menjadi dominasi dalam pengembangan nuklir di perjanjian NPT, maka India juga akan tetap mengembangkan nuklirnya tanpa harus ikut menandatangani perjanjian NPT. Keempat, kebutuhan India untuk membentuk keamanan pertahanan yang canggih dengan melihat pengalamannya pasca merdeka yang sering kali integritas teritorialnya terancam. Kelima, India melihat adanya fakta bahwa negara yang memiliki senjata nuklir akan mengalami tekanan yang mana mereka akan dihadapan pada dua kondisi yaitu tekanan dapat diatasi dengan kekuatan senjata nuklir(Amerika Serikat, Prancis dan China) atau dengan menyerah, dimana mereka yang memiliki nuklir akan menghilangkannya, (Argentina, South Afrika dan Brazil). Hanya saja India memilih yang pertama.[3]
Sedangkan untuk Pakistan sendiri, karena ingin menyeimbangi kekuatan India, maka setelah India melakukan uji coba nuklir pada 1947, Pakistan memulai untuk kegiatan program senjata nuklir dan missil. Pakistan pada masa Ali Bhutto sudah mengadvokasi Pakistan untuk pengembangan nuklir. Pendirian Ali Bhutto ini dikuatkan setelah Pakistan mengalami kekalahan pada 1971[4]. Oleh sebab itu dia mengambil keputusan agar Pakistan harus memiliki kapasitas nuklir dalam waktu dua tahun sebelum India melakukan uji coba nuklirnya di Pokhran pada 1947. Kemudian Pakistan juga harus memiliki banyak keunggulan dalam hal senjata non-konvesional, yang mana India tidak pernah bisa mengalahkan Pakistan dalam peperangan konvensional. Secara konsisten Pakistan mengalami peningkatan kapasitas nuklir dan missil dari tahun 1972 menuju tahun 1987 dengan keterbatasan alat nuklir yang dimilikinya.[5]
Adapun kepentingan strategis yang dimiliki oleh India-Pakistan karena adanya keinginan untuk menjadi negara yang dapat mendominasi secara keseluruhan di kawasan Asia Selatan. Oleh sebab itu tidak heran jika kedua negara masih saja terus melakukan proliferasi nuklir dikarenakan adanya balance of power antar keduanya. Balance of power itu sendiri merupakan  keseimbangan sebagai akibat dari dominasi salah satu negara-negara bangsa.[6]Hal ini terjadi pada India-Pakistan, yang mana India memiliki nuklir dan melakukan uji coba nuklir untuk menunjukkan bahwa negaranya memiliki kekuatan dalam hal persenjataan serta ingin mendominasi di kawasan Asia Selatan. Namun, kemudian muncul Pakistan dengan pengembangan program nuklir dan missil setelah melihat kondisi yang terjadi di Asia Selatan terkait India melakukan uji coba nuklir. Hal ini dilakukan Pakistan dalam rangka untuk menyeimbangi kekuatan India. Sehingga kekuatan dari negara satu dengan negara lain ini seimbang.



DAFTAR PUSTAKA
Schofield, Victoria. 2003. Kashmir in Conflict: India, Pakistan and the Unending War. New York: I.B. Tauris.
Sankaran, Vivek and Ramit Sethi. 2003. “India, Pakistan, and the Kashmir Conflict: Towards a Lasting Solution”. Ethics of Development in a Global Environment Term Paper 12/5/03.
Dixit, J. N. 2002. “India and Pakistan—Nuclear Weapons
States”, in India-Pakistan in War & Peace. London & New York: Routledge.
Anthonius, P Sitepu. 2011. “Studi Hubungan Internasional”, Perimbangan Kekuatan (Balance of Power). Yogyakarta: Graha Ilmu.


[1] Schofield, Victoria. 2003. Kashmir in Conflict: India, Pakistan and the Unending War. New York: I.B. Tauris. Hal 12.
[2]Sankaran, Vivek and Ramit Sethi. 2003. “India, Pakistan, and the Kashmir Conflict: Towards a Lasting Solution”. Ethics of Development in a Global Environment Term Paper 12/5/03. Hal 5.
[3]Dixit, J. N. 2002. “India and Pakistan—Nuclear Weapons
States”, in India-Pakistan in War & Peace. London & New York: Routledge. Hal 323.
[4]Adanya perang saudara antara Pakistan Barat dengan Pakistan Timur yang mana India juga ikut terlibat di dalamnya.
[5]Dixit, J. N. 2002. “India and Pakistan—Nuclear Weapons
States”, in India-Pakistan in War & Peace. London & New York: Routledge. Hal 325.
[6]P. Anthonius Sitepu. 2011. “Studi Hubungan Internasional”, Perimbangan Kekuatan (Balance of Power). Yogyakarta: Graha Ilmu. Hal 153.


Keterlibatan Rusia Di Kawasan Asia Selatan Terkait Hubungannya Dengan India
Mella Silviana[1]

Kawasan Asia Selatan merupakan salah satu budaya terbesar dunia, memiliki seperempat populasi di bumi. Kemudian merupakan tempat lahirnya dua agama tertua di dunia yaitu Hindu dan Budha. Adapun juga pemeluk Islam yang ada disana yang bahkan muslim di kawasan tersebut lebih banyak dari pada yang ada di Timur Tengah dan Afrika Utara.[2]Hal ini juga terkait dengan banyaknya sumber daya manusia yang ada di kawasan Asia Selatan.Kawasan Asia Selatan juga merupakan kawasan yang kaya akan sumber daya alam. Hanya saja tidak menjadikan negara-negara di kawasan tersebut hidup dengan rukun dan damai. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak menutup kemungkinan dalam hubungan negara-negara di kawasan Asia Selatan tersebut terlibat beberapa konflik. Seperti yang sudah diketahui seperti konflik Kashmir yang berkepanjangan antara India dan Pakistan. Kemudian berlanjut dalam masalah nuklir antara India-Pakistan yang masing-masing ingin menunjukkan kekuatan yang dimilikinya. Namun, jika ditinjau kembali konflik yang terjadi di kawasan Asia Selatan juga karena adanya campur tangan oleh negara yang berada di luar kawasan (Intrusive System). Misalnya keterlibatan Rusia berada di kawasan Asia Selatan, yang berhubungan dengan India.
Dewasa ini, keterlibatan Rusia di kawasan Asia Selatan sudah cukup lama terjadi. Dimulai semenjak terjadinya Perang Dingin antara United State dan Soviet Union. Dengan adanya dua blok ini yang mana Amerika Serikat berada pada pihak Pakistan sedangkan Uni soviet berada dipihak India. Pasca Perang Dingin dengan ditandai runtuhnya Uni Soviet dan dunia mulai menjadi Unipolar dengan menjadikan Amerika sebagai kekuatan satu-satunya di dunia. Namun, munculnya Rusia yang dulunya sebagai bagian dari Uni Soviet telah menjadi negara yang maju dan memiliki kekuatan militer yang cukup besar.Alasan Rusia masuk dalam kawasan Asia Selatan dikarenakan Rusia yang termasuk turunan/pengganti dari Uni Soviet akhirnya pun menjalin hubungan baik dengan India yang merupakan patner utama bagi negara yang berpaham komunis tersebut.
Seperti yang diketahui bahwa hubungan Amerika Serikat dengan Rusia kurang begitu baik, maka keterlibatan negara-negara di luar kawasan yang masuk kawasan Asia Selatan, terutama Rusia mungkin juga karena pengaruh dari hubungan yang kurang baik antara Rusia-Amerika Serikat sebelumnya.  Hal ini terlihat juga dalam keterlibatannya di kawasan Asia Selatan yang mana Rusia berada pada pihak India dengan dilakukannya hubungan kerjama antara Rusia dengan India.
Hubungan Rusia-India sudah terjalin cukup lama. Terutama dalam hal pemasokan senjata. Pada 2012 Vladmir Putin melakukan kunjungan resmi ke India dengan tujuan meningkatkan kerjasama militer. India tercatat merupakan negara yang menjadi pasar atau importir terbesar di dunia dan Rusia sebagai produsen telah memasok 70% dari keperluan senjata India. Rusia memang telah lama menjadi pemasok senjata utama bagi India tapi Rusia telah kehilangan sejumlah kontrak dengan perusahaan-perusahaan Barat selama beberapa tahun terakhir.[3]Adapun juga sebelum Presiden Rusia melakukan kunjungannya ke India, telah ditekankan bahwa hubungan persahabatan dan kerjasama India tersebut diutamakan dalam politik luar negeri Rusia. Watak strategi dari hubungan Rusia-India telah dimanifestasikan pada tarap kerjasama militer dan teknik yang belum pernah ada, koordinasi persenjataan modern akan menjadi kunci terhadap hubungan kedua negara tersebut di masa depan.[4]
Pada Januari 2014 lalu Presiden Rusia Vladmir Putin menyampaikan kepuasannya atas peningkatan hubungan yang terjadi antara kedua negara tersebut. "Saya puas terhadap dinamika perkembangan hubungan Rusia-India, yang melangkah ke tingkat kemitraan strategis khusus dan istimewa," bebernya, sebagaimana dilansir dari IANS (Minggu, 26/1).[5] Namun, seiringnya waktu konflik antara India dan Pakistan yang kian ketatnya bersaing dalam kekuatan militer, termasuk juga nuklir yang sebelumnya Pakistan berada atau lebih dekat dengan Amerika Serikat dan India yang lebih dekat dengan Rusia dalam masalah pemasokan senjata, kini India lebih banyak memasok persenjataannya dari Amerika Serikat pada 2014 lalu.
Rusia juga mulai menjalin hubungan dengan Pakistan terkait dengan India membeli lebih banyak senjata dari Amerika Serikat. Presiden Rusia Vladmir Putin berusaha membangun hubungan militer dengan Pakistan. Terbukti pada sekitar November 2014 lalu dengan kunjungan menteri pertahanan Rusia ke Pakistan dalam rangka penandatanganan perjanjian kerjasama militer antara Rusia-Pakistan. Alasan lain Rusia menjalin hubungan dengan Pakistan tidak hanya karena India memasok lebih banyak senjata ke AS, tapi juga dikarenakan Putin ingin membuka pasar yang lebih besar di kawasan Asia Selatan dan juga berusaha untuk memperluas hubungannya dengan negara-negara Asia dalam mengahadapi peningkatan isolasi dari AS dan sekutunya terkait krisis Ukraina dengan tuduhan dukungan Rusia terhadap pemberontak di Ukraina.
Meskipun begitu hubungan Rusia-India masih tetap berjalan baik karena sekitar pertengahan Desember 2014 lalu Rusia daan India bertemu dan membahas langkah-langkah yang mendorong hubungan kerjasama kemitraan strategis yang lebih kuat di bidang-bidang pertahanan, energi dan perdagangan. Setelah pertemuan tersebut, Presiden Vladimir Putin dan Perdana Menteri Narendra Modi menyaksikan acara penandatanganan 20 permufakatan kerjasama yang bersangkutan dengan pendidikan militer, penggunaan energi atom demi tujuan damai, permigasan, keuangan, investasi, teknologi dan informasi.[6]





Kesimpulan
Tidak dipungkiri dalam suatu wilayah/kawasan sering kali terdapat Intrusive System yaitu negara yang berada di luar kawasan yang ikut campur dalam kawasan tertentu karena adanya kepentingan. Dari pembahasan di atas telah disebutkan hubungan Rusia dengan India yang telah terjalin sudah cukup lama dengan melakukan kerjasama diberbagai bidang. Sejak awal India merupakan importir terbesar bagi pemasokan sejata Rusia. Meskipun pada 2014 diketahui bahwa India mulai membeli lebih banyak senjata dari Amerika Serikat dan Rusia mulai menjalin hubungan dengan Pakistan dengan melakukan kerjasama militer. Namun, tetap tidak menjadikan hubungan India-Rusia memburuk. Karena sekitar akhri 2014 Rusia dan India telah membahas langkah-langkah yang mendorong hubungan kerjasama kemitraan strategis yang lebih kuat dibidang pertahanan, energi dan perdagangan.













Daftar Pustaka
Putin Puas Perkembangan Hubungan Rusia-India
Perang Dingin Jilid 2, Rusia-AS Bersaing Suplai Senjata di Asia Selatan
Putin Dekati Pakistan Seiring India Membeli Senjata Lebih Banyak Ke AS

Rusia dan India memperkuat hubungan kerjasama di banyak bidang.

Rusia, India tingkatkan kerja sama militer

http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/12/121224_rusia_india_militer(diakses pada 7 Mei 2015)




[1] 201310360311149/ HI-A
[2]Chapman, Graham P. 2009. “The Greater Game”, in The Geopolitics of Souh Asia: From Early Empires to the Nuclear Age. Third Edition. Burlington: Ashgate, pp. 2