Konflik Kashmir
India-pakistan
Mella Silviana
Jika
berbicara mengenai konflik, setiap negara atau bahkan setiap individu pastinya
tidak akan terlepas dari itu. Seperti dalam masalah konflik kashmir yang
terjadi antara India dan Pakistan yang dimulai sejak 1947 ini merupakan masalah
yang sangat kompleks dan belum ada cerita akhir di kawasan Asia Selatan, karena
permasalah konflik Kashmir ini masih saja belum terselesaikan sampai sekarang
ini. Meskipun dalam satu kawasan tersebut telah dibentuk suatu organisasi
kerjasama region, seperti SAARC (South Asia Assosiation Regionalism
Cooperation). Namun, tetap saja tidak menjadikan India dan Pakistan yang
merupakan anggota dari organisasi tersebut terhindar dari permasalahan atau
konflik. Kedua negara yang cukup berpengaruh dalam kawasan Asia Selatan ini
terlibat konflik yang sangat besar dan masih berkelanjutan sampai saat ini
yaitu konflik Kashmir.
Wilayah
Kashmir itu sendiri merupakan wilayah yang memiliki kekayaan SDA, yang bahkan
jika ada negara yang melihatnya akan tertarik untuk memiliki. Akan tetapi dalam
hal ini, jelas akan menimbulkan suatu permasalahan bagi negara satu dengan
negara lain. Pada faktanya, hal ini terjadi di kawasan Asia Selatan yang mana
antara India dan Pakistan saling ingin berebut atau menjadikan wilayah Kashmir
sebagai bagian wilayah antar keduanya. Sedangkan India dan Pakistan dalam hal
ini tidak ada yang saling mengalah. Sehingga terjadilah konflik yang
berkepanjangan antara India dan Pakistan terkait perebutan wilayah Kashmir
tersebut.
Dewasa
ini, pada 1947 konflik Kashmir ini berawal dari Inggris yang menjual lembah
Kashmir pada Hindu Dogra. Sebagai Maharaja di Jammu dan Kashmir, dia menjadikan
Kasmir sebagai berlian diantara wilayah-wilayah lain yang dimilikinya, karena
banyaknya kekayaan alam yang ada di dalamnya. Namun, dengan adanya perbedaan
agama, bahasa dan budaya yang semuanya berada di bawah penguasa, kemudian juga
di Kashmir tersebut didominasi oleh Muslim, sedangkan Hindu dan Sikhs itu
minoritas. Maka pada abad yang lalu, cucu besar dari sang Maharaja Gulab Singh
yaitu Hari Singh tidak dapat memutuskan
untuk bergabung dengan India atau Pakistan. Akhirnya pada Oktober dia setuju
untuk bergabung dengan India, setelah banyaknya anggota suku Pakistan
Utara-Barat menyerbu batas negara tersebut. Namun, Negara Pakistan tidak setuju
jika Kashmir harus bergabung dengan India, karena di Kashmir populasinya
mayoritas Islam. Maka seharusnya Kashmir bergabung dengan Pakistan (yang
populasinya juga mayoritas Muslim).[1]
Perang
antara India dan Pakistan pun tidak dapat dihindari. Namun, perang antar
keduanya telah berhenti pada 1949 dengan genjatan senjata yang diawasi oleh
pihak PBB. Sebagai bagian dari genjatan senjata, PBB juga memanggil masyarakat
Kashmir berkumpul untuk melakukan pemungutan suara untuk menentukan status
suatu wilayah (plebisit). Hanya saja solusi yang diberikan ini belum mampu
menyelesaikan konflik yang terjadi antara India-Pakistan tersebut. Pada 1989,
perang antara dua negara tersebut dibatasi oleh kekuatan masing-masing. Sejak
tahun itu juga terjadinya gerakan separatis yang menyerang pemerintah India
dengan dukungan dari masyaraat Pakistan untuk Kashmir.[2]
Tujuan gerakan ini sendiri untuk merebut Kashmir dari India dan Pakistan juga
mempercayai bahwa klaim India terhadap Kashmir itu tidak adil karena sebenarnya
orang-orang Muslim Kashmir tersebut ingin bergabung dengan Pakistan. Penyebab
kompleksitas dari konflik Kashmir ini karena adanya keegoisan antar keduanya,
kemudian diantara kedua negara tersebut memiliki pandangan masing-masing untuk
mendukung argumennya terhadap permasalah yang terjadi. Sehingga hal ini sangat
sulit untuk diselesaikan, meskipun organisasi internasional dan regional
seperti PBB dan SAARC sudah berupaya untuk membantu menyelesaikan masalah,
namun tetap saja hal tersebut belum mampu memberikan dampak apa-apa bagi
permasalahan yang terjadi. Oleh sebab itu konflik Kashmir ini masih belum
terselesaikan sampai saat ini.
Proliferasi
Nuklir India-Pakistan
Munculnya
permasalahan proliferasi nuklir yang dilakukan oleh India-Pakistan ini jelas
berdampak pada perdamaian dan keamanan yang ada di kawasan Asia Selatan. Dewasa
ini, kekuatan yang dimiliki oleh nuklir yang mana bentuknya kecil tapi dampak
yang diberikan sangatlah besar. Banyak negara yang saat ini sedang memiliki atau
mengembangkan nuklir dengan alasan karena kondisi negara yang anarki sehingga
negara harus self help. Seperti halnya dengan India-Pakistan yang mana antar
keduanya saling melakukan proliferasi nuklir.
Adapun
alasan yang menjadikan India-Pakistan masih terus melakukan proliferasi nuklir
dikarenakan yang pertama, India
melakukan uji coba senjata nuklir dan untuk mendeklarasikan diri sebgai negara
yang memiliki kekuatan senjata nuklir karena adanya kondisi buruk yang ada di
India sejak akhir 1980. Oleh karena itu secara aktif pemerintah India
mencanangkan untuk melakukan uji coba nuklir. Kedua, adanya kesadaran India terkait adanya tahapan ketat dan rezim
diskriminasi interasional yang diberlakukan.Ketiga,
adanya keinginan India untuk menolak menyesuaikan diri dalam strategi militer
dan teknologi baru yang mana terdapat lima negara besar (Amerika Serikat,
Rusia, Prancis, Inggris dan China) yang mendominasi perkembangan nuklir untuk
jangka waktu yang panjang. Jadi selama lima negara tersebut masih menjadi dominasi dalam pengembangan
nuklir di perjanjian NPT, maka India juga akan tetap mengembangkan nuklirnya
tanpa harus ikut menandatangani perjanjian NPT. Keempat, kebutuhan India untuk membentuk keamanan pertahanan yang
canggih dengan melihat pengalamannya pasca merdeka yang sering kali integritas
teritorialnya terancam. Kelima, India
melihat adanya fakta bahwa negara yang memiliki senjata nuklir akan mengalami
tekanan yang mana mereka akan dihadapan pada dua kondisi yaitu tekanan dapat
diatasi dengan kekuatan senjata nuklir(Amerika Serikat, Prancis dan China) atau
dengan menyerah, dimana mereka yang memiliki nuklir akan menghilangkannya, (Argentina,
South Afrika dan Brazil). Hanya saja India memilih yang pertama.[3]
Sedangkan
untuk Pakistan sendiri, karena ingin menyeimbangi kekuatan India, maka setelah
India melakukan uji coba nuklir pada 1947, Pakistan memulai untuk kegiatan
program senjata nuklir dan missil. Pakistan pada masa Ali Bhutto sudah
mengadvokasi Pakistan untuk pengembangan nuklir. Pendirian Ali Bhutto ini
dikuatkan setelah Pakistan mengalami kekalahan pada 1971[4].
Oleh sebab itu dia mengambil keputusan agar Pakistan harus memiliki kapasitas nuklir
dalam waktu dua tahun sebelum India melakukan uji coba nuklirnya di Pokhran
pada 1947. Kemudian Pakistan juga harus memiliki banyak keunggulan dalam hal
senjata non-konvesional, yang mana India tidak pernah bisa mengalahkan Pakistan
dalam peperangan konvensional. Secara konsisten Pakistan mengalami peningkatan
kapasitas nuklir dan missil dari tahun 1972 menuju tahun 1987 dengan
keterbatasan alat nuklir yang dimilikinya.[5]
Adapun
kepentingan strategis yang dimiliki oleh India-Pakistan karena adanya keinginan
untuk menjadi negara yang dapat mendominasi secara keseluruhan di kawasan Asia
Selatan. Oleh sebab itu tidak heran jika kedua negara masih saja terus
melakukan proliferasi nuklir dikarenakan adanya balance of power antar
keduanya. Balance of power itu sendiri merupakan keseimbangan sebagai akibat dari dominasi
salah satu negara-negara bangsa.[6]Hal
ini terjadi pada India-Pakistan, yang mana India memiliki nuklir dan melakukan
uji coba nuklir untuk menunjukkan bahwa negaranya memiliki kekuatan dalam hal
persenjataan serta ingin mendominasi di kawasan Asia Selatan. Namun, kemudian
muncul Pakistan dengan pengembangan program nuklir dan missil setelah melihat
kondisi yang terjadi di Asia Selatan terkait India melakukan uji coba nuklir.
Hal ini dilakukan Pakistan dalam rangka untuk menyeimbangi kekuatan India.
Sehingga kekuatan dari negara satu dengan negara lain ini seimbang.
DAFTAR PUSTAKA
Schofield,
Victoria. 2003. Kashmir in Conflict: India, Pakistan and the Unending War. New
York: I.B. Tauris.
Sankaran,
Vivek and Ramit Sethi. 2003. “India, Pakistan, and the Kashmir Conflict:
Towards a Lasting Solution”. Ethics of Development in a Global Environment
Term Paper 12/5/03.
Dixit, J. N.
2002. “India and Pakistan—Nuclear Weapons
States”,
in India-Pakistan in War & Peace. London & New York: Routledge.
Anthonius,
P Sitepu. 2011. “Studi Hubungan Internasional”, Perimbangan Kekuatan (Balance
of Power). Yogyakarta: Graha Ilmu.
http://a-research.upi.edu/operator/upload/s_sej_011133_chapter5.pdf.
Diakses pada 12 April 2015
[1] Schofield, Victoria.
2003. Kashmir in Conflict: India, Pakistan and the Unending War. New
York: I.B. Tauris. Hal 12.
[2]Sankaran, Vivek and Ramit
Sethi. 2003. “India, Pakistan, and the Kashmir Conflict: Towards a Lasting
Solution”. Ethics of Development in a Global Environment Term Paper 12/5/03.
Hal 5.
[3]Dixit,
J. N. 2002. “India and Pakistan—Nuclear Weapons
States”,
in India-Pakistan in War & Peace. London & New York: Routledge.
Hal 323.
[4]Adanya perang saudara
antara Pakistan Barat dengan Pakistan Timur yang mana
India juga ikut terlibat di dalamnya.
[5]Dixit,
J. N. 2002. “India and Pakistan—Nuclear Weapons
States”,
in India-Pakistan in War & Peace. London & New York: Routledge.
Hal 325.
[6]P. Anthonius Sitepu.
2011. “Studi Hubungan Internasional”, Perimbangan Kekuatan (Balance of Power). Yogyakarta:
Graha Ilmu. Hal 153.