Minggu, 08 November 2015

Islam dan Isu Gender



Perselisihan Mengenai Isu Gender dalam Prespektif Islam
Isu gender memang bukan hal yang langkah terdengar ditelinga. Semenjak pasca Perang Dingin yang menjadikan AS sebagai pemenang dengan paham liberalnya, menjadikan kondisi dibeberapa Negara mengikuti paham tersebut. Dengan kondisi dunia yang semakin global ini menjadikan permasalahan atau isu-isu yang terjadi sangatlah complicated. Bahkan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan kebebasan yang merupakan akibat dari paham liberal yang dibawa oleh AS. Permasalahan tersebut salah satunya adalah dengan munculnya gerakan feminism yang merupakan gerakan kaum wanita yang ingin menuntut kesetaraan hak-hak mereka disamakan dengan laki-laki. Hal tersebut dikarenakan selama ini wanita selalu dipandang rendah baik dalam kedudukan sosial ekonomi maupun hukum serta hak-hak yang membatasi dan hanya dijadikan sebagai property oleh para kaum laki-laki. Sedangkan bagi kaum laki-laki begitu banyak hak yang dimilikinya dan tak terbatas, seperti dalam hal kepemimpinan, poligami, perceraian, warisan, pekerjaan, dan sebagainya. Oleh sebab itu tidak heran jika kelompok feminism ini melakukan gerakan dalam menuntut kesetaraan gender.
Kondisi seperti ini sudah banyak terjadi, salah satu buktinya seperti seorang wanita di AS menjadi imam sholat jum’at dan memimpin khutbah. Hal ini cukup membuktikan bahwa gerakan feminism ini cukup berhasil diterapkan. Namun, bagaimana hal tersebut jika dikaitkan dengan prespektif dalam Islam? Pastinya sangat sulit untuk menemukan titik terang dalam perdebatan mengenai Islam dan Gender. Namun, dalam prespektif Islam perlu disadari bahwa dengan kedatangan Islam telah lebih dulu mengangkat derajat wanita dari masa jahiliyah menuju masa kemuliaan. Seperti yang diketahui bahwa pada masa jahiliyah wanita sangat dianggap rendah seperti binatang, bahkan tidak dihargai sama sekali, terbukti pada masa sebelum lahirnya Rasulullah SWA, banyak bayi-bayi perempuan dibunuh hidup-hidup, karena dianggap aib bagi keluarganya. Namun setelah datangnya Islam yang dibawa oleh Rasulullah SWA ini telah menyelamatkan bayi-bayi perempuan tersebut dari kekejaman orang jahiliyah dan mengangkat kedudukannya.
Jika dikaitkan dengan adanya demokrasi yang dalam artian terdapat makna kebebasan dan keadilan. Secara tidak langsung bagi setiap orang baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama dalam melakukan segala sesuatu, baik dalam hal kepemimpinan, pekerjaan, hukum dan sebagainya tanpa adanya batas-batas tertentu. Kondisi seperti ini sering kali memunculkan perdebatan dalam pandangan Islam, lantaran kebebasan dan keadilan dalam pandangan demokrasi (Barat) dengan Islam sangatlah berbeda.
Bagi demokrasi (Barat) menganggap bahwa kebebasan dan keadilan yang dimaksud adalah semua orang baik laki-laki maupun perempuan bebas melakukan apapun dan memiliki hak tanpa ada batasan, maka kondisi seperti itulah baru bisa dikatakan adil bagi setiap orang. Sedangkan bagi pandangan Islam menganggap bahwa kebebasan dan keadilan yang dimaksud adalah setiap orang baik laki-laki maupun perempuan memiliki kebebasan atau hak dalam melakukan segala sesuatu, namun terdapat batasan dan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Perlu diketahui juga, meskipun dalam paham demokrasi liberal ini berupaya untuk menyamakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan, namun dalam Islam laki-laki dan perempuan sudah jelas memiliki perbedaan atara keduanya. Terutama jika disangkut pautkan dalam dunia perpolitikan, alasan kenapa wanita tidak bisa menjadi pemimpin seperti laki-laki, dikarenakan wanita merupakan kaum yang lemah, yang mana mereka lebih cenderung dalam menggunakan perasaannya dalam menghadapi sesuatu. Namun bukan itu saja melainkan juga wanita cenderung pada kerusakan, mudah putus asa dan tidak sabar.
Dalam QS. An-nisa: 34, juga dikatakan bahwa kaum laki-laki merupakan pemimpin bagi kaum wanita, yang mana Allah telah melebihkan laki-laki dari sebagian yang lainnya. Kemudian didukung juga dengan hadist yang mengatakan “ tidak akan bahagia suatu kaum apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita”. Dalil yang telah disebutkan tersebut sudah cukup jelas untuk menunjukkan bahwa adanya perbedaan laki-laki dengan wanita.  Oleh sebab itu jika membahas perdebatan mengenai isu gender dan Islam merupakan suatu isu yang tidak pernah ada habisnya dan masih belum bisa menemukan titik terang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar